INDONESIA SELALU JADI SASARAN DAN MEDAN PEREBUTAN PENGARUH DALAM SETIAP “PATAHAN SEJARAH”
By: Haris Rusly
(Petisi 28 dan Kepala Pusat Pengkajian Nusantara Pasifik-PPNP)
Sejarah telah menggoreskan bukti terkait ekspansi berbagai
kepentingan international, baik kepentingan agama, ideologi, budaya,
politik dan ekonomi, yang pernah menjadikan nusantara sebagai sasaran
dan medan pertarungan perebutan pengaruh.
Pengaruh Asing Di Nusantara
Nyaris tak ada peradaban besar di dunia yang tak pernah singgah di
negeri ini. Kita dapat menemukan peninggalan sejarah terkait pengaruh
kebudayaan India, berupa bahasa, aksara hingga agama Hindu dan Budha di
berbagai tempat.
Kita juga dapat menemukan peninggalan sejarah tentang pencapaian
industri, kemajuan perdagangan dan ekspansi ekonomi bangsa China, yang
tersebar luas hingga ke unjung timur nusantara. Diantara kita tentu
pasti masih menyimpan beragam koleksi barang antik berupa koin hingga
keramik yang merupakan peninggalan dari berbagai dinasti yang pernah
berkuasa di China (dinasti Ming, dinasti Qing, dinasti Tang, dll).
Demikian juga warisan pengaruh Arab di wilayah nusantara juga dengan
gampang ditemukan di negeri ini. Agama Islam yang tersebar luar di
nusantara sebagai agama yang dipeluk mayoritas penduduk adalah bukti
kuatnya pengaruh ekspansi nilai-nilai dari wilayah Arab.
Walaupun pada akhirnya pengaruh kebudayaan barat yang datang
bersamaan dengan ekspansi penjajahan ekonomi dan politik telah turut
menyumbang pengaruh dalam aliran darah sejarah nusantara. Diantaranya
yang paling mendasar adalah penggunaan aksara latin sebagai aksara
nasional bangsa Indonesia.
Sumpah Pemuda 1928 adalah sebuah prestasi besar yang pernah
ditorehkan pemuda Indonesia, namun hanya berhasil menyentuh aspek
unifkasi atau kesatuan wilayah, kesatuan bangsa dan kesatuan bahasa.
Sumpah Pemuda tak menyinggung soal aksara nasional. Kita tak menggunakan
aksara yang lahir dari perut bumi pertiwi. Akibatnya, kita tak punya
kesatuan antara bahasa dengan aksara yang digunakan. Kita menggunakan
bahasa Melayu tapi dengan aksara Latin yang dikenalkan oleh penjajah.
Berbeda dengan sejumlah peradaban di dunia yang berhasil
mempertahankan kesatuan antara aksara dengan bahasa yang bertahan hingga
kini. Diantaranya peradaban barat yang berhasil mempertahankan kesatuan
antara aksara dengan bahasa yang digunakannya. Kesatuan antara aksara
latin dengan bahasa Inggris-nya yang telah berhasil menjajah dan menjadi
bahasa dan aksara international. Peradaban China yang berhasil
mempertahankan kesatuan antara bahasa Mandarin dengan aksara Hanzi,
demikian juga kesatuan antara bahasa Arab dengan aksara Arab.
Dapat dikatakan ada tiga peradaban besar yang berhasil mempengaruhi
mindset dunia hingga saat ini, yang dicerminkan oleh mengglobalnya
penggunaan aksara dan bahasa, yaitu peradaban barat dengan aksara latin
dan bahasa Inggrisnya, peradaban China dengan aksara Hanzi dan bahasa
Mandarin, serta peradaban Arab dengan aksara Arab dan bahasa Arab yang
digunakan oleh kitab al-Qur'an.
Sebelumnya, berdasarkan temuan peninggalan sejarah di sejumlah
kerajaan Islam di nusantara, kita pernah menggunakan bahasa Melayu tapi
dengan aksara Arab. Kita juga pernah gunakan aksara Pallawa yang berasal
dari dinasti Pallawa di Selatan India, aksara Kawi yang merupakan
aksara brahmi, hingga aksara yang lahir dari bumi pertiwi berupa aksara
Jawi.
Letak Geografis Menentukan Nasib
Letak dan posisi strategis menentukan nasib bagi Indonesia yang
sering kali menjadi medan kurusetra antara berbagai peradaban di dunia.
Dianugerahi oleh Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, berada pada posisi
strategis secara geografis yang disertai limpahan sumber daya alam, baik
di darat maupun di laut, tak selalu membawa berkah bagi rakyat dan
bangsa Indonesia.
“Justru berbagai kutukan dalam bentuk penjajahan, perbudakan dan
perang saudara, datang silih berganti karena anugerah tersebut”.
Ditakdirkan berada pada posisi silang antar dua benua, benua
Australia dan benua Asia, yang dipisahkan oleh dua samudera, samudera
Hindia dan samudera Pasifik, telah menempatkan Indonesia sebagai
jembatan penghubung, titik pertemuan dan terminal persinggahan.
Akibatnya, bangsa Indonesia sangat rentan menjadi sasaran perebutan
pengaruh, baik pengaruh ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya,
oleh berbagai kepentingan asing.
Secara geologis, Indonesia juga ditakdirkan terletak di atas
pertemuan tiga lempeng aktif dunia, yaitu lempeng Indo-Australia,
Eurasia dan Pasifik. Pengaruh dari letak geologis tersebut selain
menghadirkan anugerah berupa panorama yang indah, lipatan gunung yang
mempesona, kandungan sumber daya alam yang melimpah, namun juga
menghadirkan ancaman bencana alam yang sering hadir silih bergani,
seperti gunung berapi dan gempa bumi di sepanjang jalur patahan.
Posisi silang secara geografis membawa pengaruh secara geopolitik,
yang menempatkan Indonesia sebagai terminal pertemuan antara tiga arus
besar kekuatan asing yang dalam sejarahnya sangat aktif melakukan
ekspansi, menjajah dan atau berebut memperluas pengaruh. Ketiga kekuatan
tersebut yaitu kekuatan kolonialisme dan imperialisme yang datang dari
barat (Inggris, Amerika dan Eropa), ancaman ekspansionis yang datang
dari utara (China dan Jepang), serta kekuatan agama yang datang dari
timur (India dan Timur Tengah).
Indonesia Sebagai Medan Kurusetra
Dalam berbagai episode sejarah, Indonesia memang sering dijadikan
sebagai sasaran dan medan pertarungan antara berbagai kepentingan global
tersebut yang menghadirkan sejumlah patahan sejarah. Bahkan perubahan
besar yang disertai konflik berdarah, baik konflik dengan sentimen
ideologi, konflik perebutan kekuasaan politik hingga konflik yang dipicu
sentimen agama, yang pernah terjadi di negeri ini tak bisa dilepaskan,
menjadi proxy, dari perubahan politik dan konflik perebutan pengaruh
antara berbagai kepentingan global.
Indonesia adalah salah satu “medan kurusetra”, mirip kisah Mahabarata
yang menghadirkan perang saudara sesama wangsa Kuru, antara Pandawa
menghadapi Kurawa, yang menewaskan Abimanyu, putranya Arjuna.
Tanah Indonesia juga pernah menjadi “padang karbala”, yang
berulangkali menghadapi situasi saling memangsa antar sesama anak
bangsa, mirip perang saudara antara sesama umat Islam pasca meninggalnya
Nabi Muhammad SAW, yang merenggut nyawa Husen bin Ali, cucu dari Nabi
Muhammad SAW.
Berbagai patahan sejarah yang bermula dan pernah menjadikan Indonesia
bagaikan “medan kurusetra” diantaranya adalah: Pertama, patahan yang
menguncangkan dan merobohkan konstruksi dan bangunan kolonialisme dan
imperialisme dalam bentuk dan wajah yang lama, yang disertai dengan
berdirinya konstruksi bangunan negara-negara Asia, Afrika dan Amerika
Latin yang merdeka, lepas dari penjajahan.
Revolusi kemerdekaan Indonesia tahun 1945 adalah pelopor dan
inspirasi bagi negara-negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin, dalam
memulai patahan sejarah, yaitu perubahan revolusioner dari negara
terjajah menjadi negara merdeka.
Adalah Adolf Hitler dengan segala kebiadabannya terhadap kemanusian
merupakan tokoh sentral yang memindahkan pertarungan antara bangsa
penjajah melawan bangsa terjajah menjadi konflik dan perang antara
sesama bangsa penjajah yang berseteru memperebutkan wilayah jajahan.
Keadaan tersebut yang membuat Bung Karno yang sejak tahun 1925,
terutama setelah membaca novel The Great Pacific War yang ditulis Charle
Hector Bywater, makin yakin akan meletus perang di pasifik (perang
dunia dua), yang akan menyajikan momentum bagi Indonesia dan semua
bangsa-bangsa terjajah di Asia, Afrika dan Amerika Latin untuk
memproklamirkan kemerdekaan.
Kedua, patahan sejarah yang menguncangkan dan merobohkan konstruksi
bangunan komunisme international, ditandai dengan berakhinya perang
dingin dan runtuhnya Uni Sovyet. Perang dingin adalah perang perebutan
pengaruh ideologi antara dua blok yang berwatak internationalis dan
ekspansif, yaitu antara blok komunisme Uni Sovyet dan sekutunya
berhadapan dengan blok kapitalisme barat (Amerika, Inggris, dll).
Pada episode ini, patahan sejarahnya juga bermula dari diruntuhkannya
komunisme di Indonesia tahun 1965, lalu menyusul runtuhnya Tembok
Berlin (Berliner Mauer) tahun 1989. Tembok Berlin dibangun tahun 1961
untuk membatasi dan memisahkan dua negara yang berbeda ideologi.
Menyusul kemudian bubarnya Uni Sovyet tahun 1991, sebuah negara raksasa
yang memimpin komunisme international yang berdiri tahun 1922.
“Bayangkan, dalam satu dekade, hanya selisih dua tahun, melalui
sebuah operasi intelijen, dua negara yang berbeda ideologi yang
dipisahkan oleh tembok, Jerman Barat dan Jerman Timur, berhasil
di-unifikasi atau disatukan menjadi satu negara. Di sisi yang lain,
negara Uni Sovyet yang merupakan persatuan dari negara-negara komunis
(sekitar 15 negara) di Eropa Timur, yang sangat kuat secara ideologi dan
sistem negara, berhasil diruntuhkan, puluhan negara yang bersatu di
bawah bendera Uni Sovyet akhirnya berhasil memisahkan diiri menjadi
negara independen”.
Ketiga, patahan sejarah yang menguncangkan dan meruntuhkan bangunan
pemerintahan yang diktator, ditandai dengan reformasi menuju
liberalisasi ekonomi dan politik yang terjadi di Indonesia tahun 1998.
Walaupun Indonesia bukan negara yang pertama yang dirusak melalui
liberalisasi dalam segala bidang, yang menumpangi sentimen anti rezim
diktator, sebelumnya Philipina telah memulai dengan merobohkan Presiden
Ferdinand Marcos.
Namun, reformasi tahun 1998 yang meliberalisasi seluruh kehidupan
bangsa adalah yang sangat berpengaruh dan menjadi hadiah terbesar bagi
kepentingan kapitalisme global. Berbagai organisasi LSM tingkat
international terlibat sangat aktif dengan dana unlimited untuk
meliberalisasi seluruh sektor kehidupan bangsa melalui produk UUD
amandemen maupun UU.
"Patahan sejarah yang terjadi tahun 1998 adalah pintu gerbang untuk
memulai pemusnahan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara".
Kembali Berkecamuknya Gelombang Di Pasifik
Bila kita perhatikan, patahan sejarah yang digambarkan di atas
keseluruhannya dimenangkan dan dalam kendali dari poros kapitalisme
barat (Inggris, Amerika, dll.).
"Walaupun telah terjadi sebuah perubahan revolusioner dari sejumlah
negara terjajah menjadi negara merdeka, tapi perubahan tersebut masih
tetap dalam kendali kapitalisme barat, yang mengontrolnya melalui soft
ware sistem bernegara, yang dilandaskan pada filosofi liberalisme
ekonomi dan politik".
Karena itu, segenap rakyat dan bangsa Indonesia harus memfokuskan
perhatian kita dalam menghadapi berkecamuknya gelombang di pasifik,
serta ancaman dan tantangan patahan sejarah yang sedang menghadang dan
menjadikan bangsa kita sebagai sasaran dan medan perebutan pengaruh.
Patahan sejarah yang diprediksi akan terjadi ke depan diakibatkan
oleh gesekan matahari kembar, antara matahari yang terbit di barat
(kapitalisme korporasi yang tumbuh di Inggris dan Amerika) berhadapan
dengan matahari yang terbit di utara (kapitalisme negara yang tumbuh
China) yang sinarnya mulai terasa terik.
Pada prinsipnya, baik kapitalisme korporasi yang tumbuh di barat
(Amerika, Inggris, Eropa) maupun kapitalisme negara yang tumbuh di China
mempunyai kesamaan tujuan, yaitu melebur dunia dengan meniadakan batas
batas negara yang menghambat pertumbuhan dari kapitalisme itu sendiri.
Bedanya, kapitalisme barat telah berhasil menguasai dan mengendalikan
dunia melalui soft ware system negara, One Goverment One System (OGOS),
yaitu dengan menggunakan senjata liberalisme (ekonomi dan politik)
serta revolusi teknologi informasi untuk meleburkan dan mendominasi
dunia.
Sementara kapitalisme negara yang tumbuh di China berambisi melebur,
menguasai dan mengendalikan dunia ke dalam gengamannya melalui hard ware
system, yaitu melalui senjata pembangunan infrastruktur untuk
menyatukan seluruh negara-negara dengan pusat politik di Beijing dan
pusat ekonomi dan keuangan di Shanghai.
“China dream” akan diwujudkan melalui program Jalur Sutra, satu sabuk
satu jalur, One Belt One Road (OBOR), yang dijalankan melalui projek
pembangunan infrastruktur menyusuri darat dan laut, yang menghubungkan
seluruh kawasan di Asia Tengah, Asia Tenggara, Australia, Eropa,
Afrika, Timur Tengah, dll.
Salah satu tujuan dari projek OBOR tersebut adalah mengontrol dan
mengendalikan jalur supply chain (rantai pasokan) secara international,
menjadi “kepala preman” yang mengontrol jalur produksi, distribusi dan
konsumsi di kawasan pasifik”.
Baik projek OGOS (One Goverment One System) dari kapitalisme barat
maupun projek OBOR (One Belt One Road) dari kapitalisme China, adalah
sebuah ancaman serius bagi bangsa Indonesia: Pertama, ancaman peleburan
negara (unification). Tahapan peleburan negara telah berlangsung cukup
lama melalui liberalisasi ekonomi dan revolusi teknologi informasi yang
telah merobohkan batas, tiang dan dinding negara.
Kedua, setelah melewati jalan peleburan negara, maka okupasi
(occopation) atau pendudukan wilayah oleh bangsa lain di atas tanah
Indonesia akan semakin mulus, sebagaimana yang dilakukan oleh Inggris
yang menduduki tanah Australia dengan mengusir suku asli Aborigin, atau
pendudukan atas tanah Amerika oleh Inggris dengan mengusir suku asli
Indian.
Negara penjajah seperti Inggris sangat kuat mencengkeram dunia karena
ditopang oleh konsep commonwealth yang tersebar luas menduduki dan
membentuk negara Afrika Selatan, Kanada, Selandia Baru, Australia dan
Amerika Serikat, dll.
Sementara peradaban China menjadi kuat karena didukung oleh kekuatan
overseas (perantauan). Demikian juga kekuatan Yahudi menguasai dan
mengendalikan dunia dengan strategi dan konsep diasporanya.
🏹
Tidak ada komentar:
Posting Komentar