Sabtu, 18 Maret 2017
Uang Yang Mengusir Pemiliknya
Di
kota-kota penyangga Jakarta seperti Bekasi, Bogor, Depok, Tangerang
dlsb., mudah kita jumpai keluarga tua yang senang berkisah nostalgia
tentang rumahnya yang dahulu. Mereka suka bercerita : “…dahulu kami tinggal di…”,
tempat yang dimaksud rata-rata kini telah menjadi pusat perkantoran
atau perdagangan bergengsi di Jakarta. Apa yang ‘mengusir’ mereka dari
tempat tinggal aslinya tersebut ke tempat tinggalnya sekarang ? Tanpa
mereka sadari, sebenarnya uang mereka sendirilah yang ikut menjadi
penyebabnya. Kok bisa ?
Karena
pentingnya penguasaan ternak dan lahan ini untuk long term
sustainability masyarakat, untuk food security bukan hanya kita yang
hidup di jaman ini tetapi juga yang akan hidup di jaman anak cucu kita
mendatang.
Saksi
hidup dari kejadian seperti ini masih bisa kita saksikan antara lain di
sebuah masjid tua yang masih eksis diantara belantara gedung
perkantoran pencakar langit di Mega Kuningan. Di hari Jum’at ketika
masjid tersebut dipadati oleh orang-orang kantoran, ada segelintir
jama’ah yang tidak nampak seperti orang kantoran.
Rata-rata
mereka usianya sudah tua, pakai sarung atau gamis dan datang dari
tempat yang jauh. Selesai sholat Jum’at mereka tidak langsung pulang,
mereka duduk-duduk di emperan masjid sambil memandangi gedung-gedung
bertingkat di hadapannya. Dengan mata berkaca-kaca, mereka mengenang
masa lalu.
Sambil memandang teman duduknya, mereka mulai mengingat satu demi satu “…dulu rumahmu di sana, rumahku di sebelahnya, si fulan di belakangnya …dst”. Mereka juga mulai saling bertanya, “si ‘Abdullah’ yang dahulu paling rajin ke Masjid sekarang dimana ya ?” tidak ada yang bisa menjawab karena tidak ada yang tahu kemana perginya pak ‘Abdullah’ yang dimaksud.
Bahkan ketika ada yang bertanya : ‘…dimana ya Imam kita yang dulu…?’, yang ditanya menjawab : “Itulah…,
waktu khutbah tadi ketika Khottib mulai angkat telunjuk dan berseru
‘…Yaa Ayyuhal ladzi na Amanu..’…saya kok jadi ingat Imam kita yang
dahulu, dengan suaranya yang khas menyeru dari mimbar ‘…Yaa Ayyuhal ladzi na Amanu…”
Kemudian dengan meneteskan air mata dia melanjutkan : “…kita
ndak nyangka, orang-orang yang dahulu diseru dengan panggilan “Yaa
ayyuhal ladzi na Amanu” – yaitu kita-kita ini , bisa terusir dari tempat
ini – entah oleh siapa, yang jelas para pemilik gedung-gedung penckar
langit itu tidak datang ke Masjid ini untuk sholat jum’at…”.
Di
tengah diskusi penuh kerinduan masa lalu ini saya nimbrung dalam
pembicaraan mereka. Lalu saya bertanya, bagaimana prosesnya dahulu
mereka kehilangan rumah mereka. Salah seorang diantaranya – sebut saja
Pak Haji – menjelaskan dengan rinci dengan ingatannya yang masih tajam.
Setelah
negosiasi yang panjang, akhirnya Pak Haji sepakat untuk melepas
tanahnya untuk dibuat gedung perkantoran. Sehari menjelang pembayaran,
utusan sang pengusaha yang membeli tanah Pak Haji mendatangi rumah Pak
Haji dan memberikan petunjuk. Bahwa agar mudahnya transaksi pembayaran,
Pak Haji dibukakan buku tabangan di bank x – dan Pak Haji nurut saja.
Setelah hari H – hari transaksi
pembayaran, pak haji menerima buku tabungan, dengan saldo angka seperti
yang disepakati. Beberapa hari setelah menerima buku tabungan tersebut,
pak haji didatangi lagi oleh utusan sang pengusaha – intinya menanyakan
kapan pak haji akan pindah dari rumahnya.
Setelah
itu si utusan terus sering mendatangi Pak Haji, sampai Pak Haji risih
dan segera pergi meskipun belum mendapatkan rumah pengganti yang
disukainya. Tidak sampai 10% dari saldo tabungannya yang dia gunakan
untuk membeli rumah ‘sementara’ dan sisanya 90 % tetap berada di bank
yang sama.
Belakangan
pak haji baru tahu bahwa pengusaha yang membeli rumahnya, juga
pengusaha yang sama yang memiliki bank – dimana Pak Haji menyimpan
uangnya sampai bertahun-tahun kemudian. Dengan bahasanya sendiri yang
sederhana pak Haji-pun akhirnya paham : “
…jadi saya diusir dari rumah saya oleh uang saya sendiri, rumah saya
diganti dengan buku tabungan, lha yang beli ndak keluar apa-apa, wong
uang saya tetap berada di banknya sampai berpuluh tahun ! – saya hanya ambil bunganya untuk hidup sehari hari”.
Kisah
semacam ini umum sekali terjadi di jaman ketika terjadi asymmetric
capital access – akses capital yang tidak simetris antara Pak Haji
dengan pengusaha pemilik bank , dan juga pengusaha lain yang memiliki
akses kredit perbankan.
Pemilik asset riil – seperti rumah, kebun , sawah dlsb – bisa dengan mudah kehilangan assetnya oleh pemilik akses modal. Pengusaha-pengusaha
yang memiliki akses kredit perbankan, bisa dengan mudah menguasai
mayoritas asset lahan di Jakarta dan sekitarnya, juga di kota-kota besar
lainnya. Sementara pemilik asset riil berupa tanah, terusir ke pinggir
dan terus ke pinggir yang semakin jauh.
Siapa
yang memberi mereka modal untuk membeli lahan-lahan tersebut ? ya kita
semua yang menaruh uang kita di bank – sama dengan uang Pak Haji
tersebut di atas. Tanpa kita sadari ketika kita menaruh uang di bank –
kita tidak tahu untuk apa uang kita digunakan dan siapa yang
menggunakannya, bisa jadi uang tersebutlah yang mengusir kita dari rumah
kita seperti nasib Pak Haji.
Dan
bukan hanya uang di bank, hal yang sama yang terjadi dengan uang kita
yang tersimpan di dana pensiun, asuransi dlsb. ujung dari untuk apa dan
oleh siapa penggunaan uang kita tersebut – kita tidak pernah tahu.
Padahal kelak kita pasti ditanya untuk apa saja uang atau harta yang
kita kumpulkan selama kita hidup di dunia, bagaimana kalau jawabannya
adalah kita tidak tahu ?
Maka
secara umum saya buatkan diagram sederhana di biwah ini agar kita
memahami penggunaan dan manfaat dari uang atau harta kita secara
keseluruhan. Di jaman ini semakin banyak harta, semakin besar
kemungkinan harta kita tersebut digunakan untuk hal yang sia-sia atau
bahkan maksiat tanpa kita sadari. Lho kok bisa ?
Lihat kasus Pak Haji tersebut di atas, dimana uang yang 90%-nya tersimpan ?
di bank- kan ? perhatikan fatwa DSN MUI no 1 tahun 2004 tentang bunga
simpanan di bank, koperasi, asuransi, dlsb yang konvensional – jatuhnya
adalah riba. Dan sekitar 95% dana masayrakat yang tersimpan di
institusi-institusi tersebut adanya di institusi keuangan konvensional –
yang masuk kategori riba – di fatwa DSN-MUI tersebut.
Tipical Pengelolaan Asset Masyarakat Modern
Pak
Haji tidak menyadari bukan kalau uangnya bermaksiat ‘riba’ ? dan bahkan
perlu waktu berpuluh tahun untuk Pak Haji menyadari uang juga menjadi
musuh yang mengusirnya dari rumahnya.
Semakin
banyak uang, juga meningkatkan kemungkinan kita menggunakannya untuk
hal yang sia-sia atau Laghwi. Membeli hal-hal yang tidak berguna,
bepergian ketempat-tempat yang tidak dianjurkan dlsb.
Lantas
apakah kita tidak boleh memiliki harta yang banyak ? tentu boleh,
tetapi digeser ke atas dari dua segitiga dalam ilustrasi tersebut. Agar
uang atau harta kita tidak menjadi maksiat yang kita tidak sadari, atau
bahkan menjadi musuh yang mengusir kita dari rumah kita – harta kita
hendaknya menjadi asset riil yang produktif melayani kebutuhan kita.
Lebih
besar kemungkinannya bagi kita untuk bisa mengendalikan asset riil
ketimbang asset financial seperti uang di bank, dana pensiun, asuransi
dlsb. Kalau toh asset riil diserahkan ke orang lain, rata-rata kita tahu
siapa yang menggunakan dan untuk apa. Akses modal terhadap asset riil
juga relatif lebih setara – ketimbang asset financial, jadi tidak
terjadi asymmetric capital access – pada asset-asset riil.
Daftar asset riil yang abadi ini juga disebutkan di Al-Qur’an dalam ayat berikut : “ Dijadikan terasa indah dalam
pandangan manusia cinta terhadap apa-apa yang diinginkan, berupa
wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang…”. (QS 3: 14)
Emas
dan perak memwakili uang yang adil, yang tidak bisa diturunkan nilai
daya belinya oleh inflasi dan sejenisnya. Kuda pilihan merepresentasikan
transportasi dan harta secara umum – yang dalam hadis sahih bukhari
panjang dijelaskan kategorinya menjadi tiga jenis kuda yaitu kuda Allah,
kuda setan dan kuda manusia. Ilustrasi grafis di atas diambil dari
penjelasan hadis ini.
Kuda
Allah adalah kuda atau harta yang digunakan di jalan Allah, manfaatnya
tidak terhingga untuk menjaga keimanan, kehormatan manusia selagi di
dunia, dan menjadikan balasan terbaik di akhirat nanti.
Kuda
setan adalah kuda yang dipakai berbangga-bangga di dunia, berjudi dan
bermaksiat lainnya. Sedangkan kuda manusia adalah kuda-kuda yang
digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari, untuk
transportasi, mengangkut barang dan kebutuhan lainnya.
Hewan
ternak dan sawah ladang mewakili asset vital yang kita perlu kuasai
untuk memenuhi kebutuhan utama kita, yaitu terjaminnya kebutuhan dasar
akan kebutuhan makanan yang sehat dan cukup bagi kita dan anak cucu kita
kelak. Bahasa sekarangnya adalah untuk menjamin food security.
Karena
masyarakat modern saat ini amat sangat lemah dalam kepemilikan kategori
riil asset berupa ternak dan sawah ladang ini pulalah yang menyebabkan
kita lemah dalam hal food security. Lahan-lahan kita dikuasai para
pemilik modal yang tidak mengolahnya menjadi tanah pertanian dan
peternakan, dan mereka menguasainya dengan uang kita !
Namun
asset riil juga seperti karakter kuda tersebut di atas, kepemilikannya
sedapat mungkin menjadi jalan untuk beramal fisabilillah – agar
manfaatnya maksimal. Atau setidaknya menjadi ‘kuda manusia’ yang
dikelola produktif sehingga bisa memenuhi kebutuhan pemiliknya – untuk
‘food security’ dan sejenisnya. Jangan menjadi ‘kuda setan’ , dibeli
kemudian dianggurkan – hanya untuk sekedar memiliki atau menguasai.
Kalau
saja pembelanjaan kita tidak seperti dua segitiga di atas, tetapi
terbalik – kalau kita banyak harta , porsi terbesarnya untuk
fisabilillah, terus untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarga dan
sesedikit mungkin – kalau bisa tidak ada – yang untuk laghwi atau
maksiat, maka akan betapa indahnya dunia ini.
Tidak
ada kaum yang tertindas karena akan selalu ada yang memerdekakannya
dengan dana fisabilillah, tidak ada yang sakit kecuali ada yang
mengobati, tidak ada pengungsi korban perang kecuali ada yang memberinya
tempat tinggal, tidak ada yang lapar kecuali ada yang memberinya makan,
tidak ada yang bodoh kecuali ada yang mendidiknya hingga pintar.
Yang
perlu kita lakukan untuk ini hanya melangkah – mengangkat kaki yang
satu ke depan kaki lainya – setiap saat. Bila harta kita saat ini lebih
ke bottom of pyramid tersebut di atas, selangkah demi selangkah kita
dorong ke atas, sampai suatu saat menjadi pyramid terbalik. InsyaAllah. (Muhaimin Iqbal).
Rabu, 15 Maret 2017
Yusril: Umat Islam Tidak Cukup Unjuk Kekuatan dengan Aksi Damai saja, Tapi Juga harus dengan Cara ini
Umat
Islam Indonesia harus mendukung kekuatan politik Islam. Dengan demikian
umat Islam dapat turut menentukan kebijakan-kebijakan politik di Tanah
Air.
Karena itu, Yusril mengajak umat Islam untuk membangun kesadaran
bersama, agar ummat Islam perlu memiliki kekuatan politik Islam yang
signifikan, sehingga arah politik ummat ke depan bersifat lebih Islami.
Karena bila kekuatan politik Islam semuanya tenggelam sebut Yusril,
benteng untuk nenjaga Islam dan juga menjaga Negara Kesatuan RI akan
pupus.
“Caranya adalah mendukung partai-partai Islam dalam pemilihan
legislatif, pilkada dan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden,” kata
Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra dalam
keteranga tertulisnya, Selasa (14/3) petang.
Dikatakan Yusril, umat Islam tidak cukup hanya unjuk kekuatan dengan
aksi damai, zikir dan doa tanpa langkah-langkah nyata untuk membangun
kekuatan politik Islam di Indonesia. Aksi damai, shalat jamaah, zikir
dan doa memang penting, namun jangan dilupakan adanya usaha-usaha nyata
untuk membangun kekuatan politik yang tangguh.
“Adalah kontradiksi, jika umat Islam menjalankan ibadah menurut tuntunan
Islam, namun dalam politik mendukung kekuatan politik sekular. Bahkan
tidak jarang kekuatan politik sekuler itu bukan hanya tidak simpatik
kepada Islam dan umatnya, tetapi juga bersifat anti-Islam,” katanya.
Yusril menyebut, kekuatan politik Islam yang wajib didukung itu adalah
kekuatan moderat yang menempatkan Islam dan umatnya berada dalam posisi
“ummatan wasatan” (yang berada di tengah). Bukan kekuatan ekstrim,
apalagi yang bersifat intoleran terhadap perbedaan.
“Kekuatan Islam moderat ini menjunjung tinggi azas-azas Islam, etika dan
moralitas Islam yang bertumpu pada prinsip keadilan bagi semua,”
katanya.
Dari pengamatannya, pakar hukum tata negara itu mengemukakan, dalam tiga
tahun terakhir, umat Islam sama-sama merasakan di era kebebasan yang
luar biasa, dimana orang leluasa menista dan merendahkan Islam melalui
berbagai media. Sementara, ucapnya, tidak terlihat ada upaya-upaya dari
penguasa untuk memberikan edukasi dan menghentikannya.
“Pemerintahan yang tidak simpati kepada Islam, jangan diharapkan akan
bersikap adil dan mengayomi Islam dan umatnya,” tegas Yusril.

Berselingkuh dengan Komunis
Angin merah dari arah kiri berembus menembus ruang-ruang istana
kepresidenan. Sebagai kekuatan politik yang dianggap paling progresif
dan revolusioner, Partai Komunis Indonesia (PKI) mendapatkan tempat
tersendiri di mata Pemimpin Besar Revolusi, Sukarno.
“Sang presiden pada 1963 hingga 1965 banyak ‘memberi angin’ kepada
partai komunis itu dibandingkan kepada partai-partai politik lainnya,”
kata Cosmas Batubara dalam biografi politiknya.
PKI memang luar biasa. Partai berlambang palu arit itu merupakan partai
komunis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Soviet.
Anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta orang. Ditambah 3 juta orang dari
pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang
mempunyai 3,5 juta anggota. Juga pergerakan petani melalui Barisan Tani
Indonesia (BTI) yang mempunyai 9 juta anggota.
Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis serta
pergerakan sarjananya. Sehingga, PKI mempunyai lebih dari 20 juta
anggota dan pendukung. Atau seperlima dari jumlah penduduk Indonesia
tahun 1965. Jumlah penduduk Indonesia pada 1965 sekitar 100 juta jiwa.
Kebangkitan PKI diawali dalam Pemilu 1955. Hanya tujuh tahun setelah
peristiwa pemberontakan Madiun. Partai ‘kiri merah’ itu tampil sebagai
kekuatan keempat di bawah partai PNI (22 persen), Masyumi (20 persen),
NU (18 persen), dan PKI (16 persen). Kemudian memanfaatkan momentum 5
Juli 1959. Saat itu, presiden Sukarno membubarkan parlemen dan
menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden.
PKI merupakan kekuatan paling antusias menyambut Demokrasi Terpimpin.
Apalagi setelah Bung Karno membuat persekutuan konsepsi, antara
nasionalis, agamis, dan komunis yang dinamakan Nasakom. Nasionalis
(PNI), agama Islam tradisional (NU), dan komunis (PKI). Masyumi menolak
masuk dalam konsepsi tersebut. Partai Islam modernis itu kemudian
dibubarkan Sukarno.
Maka, PKI merasa memiliki mandat untuk masuk dalam konsepsi tersebut.
PKI menilai, pihak-pihak yang tidak bisa menyetujui gagasan Nasakom
sebagai kontrarevolusi dan harus ditekan. Di situ Sukarno ‘berselingkuh’
dengan komunis untuk memperkuat kedudukannya sebagai orang nomor satu
di Republik Indonesia.
Dialektika Materialisme
Sukarno lupa bahwa ia pernah mengutuk PKI dalam peristiwa pemberontakan
Madiun 1948. Lupa bahwa DN Aidit dan kawan-kawan adalah penerus Muso
yang ingin merebut kekuasaan dan mendirikan Negara Soviet Indonesia atau
Negara Komunis Indonesia.
Entah mengapa, Sukarno seperti lupa tentang ‘Historis Materialisme’.
Kalimat itu merupakan satu kesatuan dengan dialektika materialisme dalam
Filsafat Ilmu Karl Marx. Kemudian dikonkretkan pelaksanaannya oleh
Lenin.
Dari sumber ideologi itulah partai komunis menggariskan tujuan dan
cita-cita politiknya. Dalam dialektika materialisme diajarkan bahwa
segala sesuatu yang ada, tidak bersumber dari sumber segala ada, yakni
Tuhan. Melainkan hasil perkembangan dialektis dari sesuatu yang materiil
atau jasmaniah sifatnya.
Dialektis maksudnya perkembangan menuju ke taraf yang lebih tinggi
dengan melalui pertentangan. Dalam rangka perkembangan dialektis
materialisme ini akhirnya terwujudlah manusia.
Menurut istilah orang komunis: kerja dan kerja yang menciptakan manusia
(labours created man), dan bukan karena Tuhan. Karena dalam perkembangan
materi itu, akhirnya terwujudlah makhluk yang sedikit demi sedikit
dapat melepasakan tangannya dari keharusan menjaga badannya. Dialektika
materialisme tidak mengenal adanya Tuhan.
Jadi jelas bahwa konsep serta ideologi partai komunis bertentangan
dengan ideologi bangsa Indonesia, yang mengakui adanya kekuasaan Tuhan.
Apalagi poin pertama ideologi bangsa Indonesia, Pancasila adalah
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Mohamad Hatta sebagai teman seperjuangan Sukarno, terang-terangan
mengutuk ide Nasakom tersebut. Ia bahkan memprediksi Sukarno bisa
terpeleset gara-gara Nasakom. Suatu kemustahilan menyatukan komunis
dengan Islam yang menganut Ke-Esa-an Tuhan.
Tetapi, Sukarno tetap keras kepala dengan pendiriannya tentang Nasakom.
Merasa mendapatkan angin politik, PKI mulai berani menuduh
lawan-lawannya dengan berbagai sebutan seperti kontrarevolusi (kontrev),
kapitalis birokrat (kabir ), antek-antek nekolim (antek-antek
neokolonialisme), komprador, setan desa, setan kota, kaum sarungan, dan
lain-lain.
Partai kiri merah ini semakin agresif dan menawarkan kepada presiden
Sukarno agar menyetujui pembentukan tentara ke-V atau angkatan kelima,
selain Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Angkatan Kepolisian.
Tidak peduli belum mendapatkan persetujuan Sukarno, mereka melatih para
sukarelawan di Lubang Buaya, ujung timur Jakarta yang berbatasan dengan
Pondok Gede, Kota Bekasi. PKI berdalih latihan tersebut dalam rangka
konfrontasi dengan Malaysia.
Arah politik luar negeri Indonesia juga sangat menguntungkan PKI.
Terbentuk poros Jakarta-Hanoi (Vietnam)-Peking (kini Beijing, Cina) dan
Pyongyang (Korea Utara). Berporos dengan tiga negara komunis. PKI pun
merasa bahwa Bung Karno sejalan dengan garis perjuangannya.
PKI Lawan Angkatan Darat
Di sisi lain, Angkatan Darat merupakan organisasi militer yang sangat
anti terhadap komunis. Mereka (Divisi Siliwangi) menumpas pemberontakan
PKI di Madiun. Juga menumpas sejumlah pemberontakan dan pergolakan. TNI
AD pun dan menentang keras Sukarno yang memasukkan orang-orang komunis
dalam kabinet.
Termasuk menentang keras usulan Angkatan Kelima serta Nasakom. Sikap
keras Angkatan Darat berbeda dengan angkatan lain yang cenderung patuh
kepada Presiden Sukarno. Kedekatan Bung Karno dengan PKI membuat
hubungan Sukarno dengan Angkatan Darat tidak harmonis.
Bagi PKI buruknya kondisi kesehatan Bung Karno menjadi alasan
mengambilalih kepemimpinan nasional. Menjelang akhir September 1965
dijadikan momentum untuk mengambilalih kekuasaan dengan jalan kekerasan.
PKI menyebar isu Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta terhadap
presiden Sukarno. Panglima Angkatan Darat, Letnan Jenderal Ahmad Yani
dan lima jenderal Angkatan Darat lainnya dibunuh. Termasuk Letnan Satu
(Zeni) Piere Tendean, ajudan Jenderal AH Nasution, dibunuh dan
dimasukkan ke dalam sumur di kawasan Lubang Buaya, tempat latihan
Angkatan Kelima PKI.
PKI pun melancarkan gerakan pada 30 September 1965. Belakangan dalam
beberapa pidato 1966, presiden Sukarno mengakui ada PKI di belakang
peristiwa itu. Dia mengutuknya sebagai tindakan keblinger pimpinan PKI,
seperti dalam laporan pertanggungjawaban Nawaksara. Sesuatu yang
janggal, sebab Sukarno berani membubarkan Partai Masyumi dan Partai
Sosialis Indonesia, tetapi menolak membubarkan PKI.
Penolakan tersebut menjadi salah satu penutup kiprah politik Bung Karno.
Padahal, demonstrasi menuntut pembubaran PKI terus menggelinding sejak
akhir 1965 hingga Februari 1967. MPRS pun mencabut mandat dari Sukarno
setelah ia menyerahkan kekuasaan kepada Letjen Soeharto sebagai
Pengemban Ketetapan MPRS No.IX/MPRS/1966. (Selamat Ginting)
Senin, 13 Maret 2017
PERNYATAAN (mantan preman ) SANG MUALAF
* JADI TERHARU DENGERNYA *
PERNYATAAN (mantan preman ) SANG MUALAF
( Hercules Romario Marshal )
" Ini pakaian saya yang sekarang ( sambil menunjukan
pakaian yg dikenakan dan peci di kepalanya ), Dulu saya keluar masuk penjara
karena kebodohan saya membela kemaksiatan, sekarang saya lebih siap keluar masuk
penjara membela agama saya ( Islam ) bahkan mati sekalipun saya siap,itu lebih
baik di mata Tuhan...Allah SWT "
Masya Allah
Semoga sehat panjang umur Bang tambah ilmu agamanya .
Aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)