Sabtu, 18 Maret 2017

MENOLAK LUPA.........

Politikus memorinya payah banget

 

Uang Yang Mengusir Pemiliknya

Di kota-kota penyangga Jakarta seperti Bekasi, Bogor, Depok, Tangerang dlsb., mudah kita jumpai keluarga tua yang senang berkisah nostalgia tentang rumahnya yang dahulu. Mereka suka bercerita : “…dahulu kami tinggal di…”, tempat yang dimaksud rata-rata kini telah menjadi pusat perkantoran atau perdagangan bergengsi di Jakarta. Apa yang ‘mengusir’ mereka dari tempat tinggal aslinya tersebut ke tempat tinggalnya sekarang ? Tanpa mereka sadari, sebenarnya uang mereka sendirilah yang ikut menjadi penyebabnya. Kok bisa ?

Saksi hidup dari kejadian seperti ini masih bisa kita saksikan antara lain di sebuah masjid tua yang masih eksis diantara belantara gedung perkantoran pencakar langit di Mega Kuningan. Di hari Jum’at ketika masjid tersebut dipadati oleh orang-orang kantoran, ada segelintir jama’ah yang tidak nampak seperti orang kantoran.

Rata-rata mereka usianya sudah tua, pakai sarung atau gamis dan datang dari tempat yang jauh. Selesai sholat Jum’at mereka tidak langsung pulang, mereka duduk-duduk di emperan masjid sambil memandangi gedung-gedung bertingkat di hadapannya. Dengan mata berkaca-kaca, mereka mengenang masa lalu.

Sambil memandang teman duduknya, mereka mulai mengingat satu demi satu  “…dulu rumahmu di sana, rumahku di sebelahnya, si fulan di belakangnya …dst”. Mereka juga mulai saling bertanya, “si ‘Abdullah’ yang dahulu paling rajin ke Masjid sekarang dimana ya ? tidak ada yang bisa menjawab karena tidak ada yang tahu kemana perginya pak ‘Abdullah’ yang dimaksud.

Bahkan ketika ada yang bertanya : ‘…dimana ya Imam kita yang dulu…?’, yang ditanya menjawab : “Itulah…, waktu khutbah tadi ketika Khottib mulai angkat telunjuk dan berseru ‘…Yaa Ayyuhal ladzi na Amanu..’…saya kok jadi ingat Imam kita yang dahulu, dengan suaranya yang khas menyeru dari mimbar  ‘…Yaa Ayyuhal ladzi na Amanu…

Kemudian dengan meneteskan air mata  dia melanjutkan  : “…kita ndak nyangka, orang-orang yang dahulu diseru dengan panggilan “Yaa ayyuhal ladzi na Amanu” – yaitu kita-kita ini , bisa terusir dari tempat ini – entah oleh siapa, yang jelas para pemilik gedung-gedung penckar langit itu tidak datang ke Masjid ini untuk sholat jum’at…”.

Di tengah diskusi penuh kerinduan masa lalu ini saya nimbrung dalam pembicaraan mereka. Lalu saya bertanya, bagaimana prosesnya dahulu mereka kehilangan rumah mereka. Salah seorang diantaranya – sebut saja Pak Haji – menjelaskan dengan rinci dengan ingatannya yang masih tajam.

Setelah negosiasi yang panjang, akhirnya Pak Haji sepakat untuk melepas tanahnya untuk dibuat gedung perkantoran. Sehari menjelang pembayaran, utusan sang pengusaha yang membeli tanah Pak Haji mendatangi rumah Pak Haji dan memberikan petunjuk. Bahwa agar mudahnya transaksi pembayaran, Pak Haji dibukakan buku tabangan di bank x – dan Pak Haji nurut saja.

Setelah hari H – hari  transaksi pembayaran, pak haji menerima buku tabungan, dengan saldo angka seperti yang disepakati. Beberapa hari setelah menerima buku tabungan tersebut, pak haji didatangi lagi oleh utusan sang pengusaha – intinya menanyakan kapan pak haji akan pindah dari rumahnya.

Setelah itu si utusan terus sering mendatangi Pak Haji, sampai Pak Haji risih dan segera pergi meskipun belum mendapatkan rumah pengganti yang disukainya. Tidak sampai 10% dari saldo tabungannya yang dia gunakan untuk membeli rumah ‘sementara’ dan sisanya 90 % tetap berada di bank yang sama.

Belakangan pak haji baru tahu bahwa pengusaha yang membeli rumahnya, juga pengusaha yang sama yang memiliki bank – dimana Pak Haji menyimpan uangnya sampai bertahun-tahun kemudian. Dengan bahasanya sendiri yang sederhana pak Haji-pun akhirnya paham : “ …jadi saya diusir dari rumah saya oleh uang saya sendiri, rumah saya diganti dengan buku tabungan, lha yang beli ndak keluar apa-apa, wong uang saya tetap berada di banknya sampai berpuluh tahun !saya hanya ambil bunganya untuk hidup sehari hari”.

Kisah semacam ini umum sekali terjadi di jaman ketika terjadi asymmetric capital access – akses capital yang tidak simetris antara Pak Haji dengan pengusaha pemilik bank , dan juga pengusaha lain yang memiliki akses kredit perbankan.

Pemilik asset riil – seperti rumah, kebun , sawah dlsb – bisa dengan mudah kehilangan assetnya oleh pemilik akses modal.  Pengusaha-pengusaha yang memiliki akses kredit perbankan, bisa dengan mudah menguasai mayoritas asset lahan di Jakarta dan sekitarnya, juga di kota-kota besar lainnya. Sementara pemilik asset riil berupa tanah, terusir ke pinggir dan terus ke pinggir yang semakin jauh.

Siapa yang memberi mereka modal untuk membeli lahan-lahan tersebut ? ya kita semua yang menaruh uang kita di bank – sama dengan uang Pak Haji tersebut di atas. Tanpa kita sadari ketika kita menaruh uang di bank – kita tidak tahu untuk apa uang kita digunakan dan siapa yang menggunakannya, bisa jadi uang tersebutlah yang mengusir kita dari rumah kita seperti nasib Pak Haji.

Dan bukan hanya uang di bank, hal yang sama yang terjadi dengan uang kita yang tersimpan di dana pensiun, asuransi dlsb. ujung dari untuk apa dan oleh siapa penggunaan uang kita tersebut – kita tidak pernah tahu. Padahal kelak kita pasti ditanya untuk apa saja uang atau harta yang kita kumpulkan selama kita hidup di dunia, bagaimana kalau jawabannya adalah kita tidak tahu ?

Maka secara umum saya buatkan diagram sederhana di biwah ini agar kita memahami penggunaan dan manfaat dari uang atau harta kita secara keseluruhan. Di jaman ini semakin banyak harta, semakin besar kemungkinan harta kita tersebut digunakan untuk hal yang sia-sia atau bahkan maksiat tanpa kita sadari. Lho kok bisa ?



Lihat kasus Pak Haji tersebut di atas, dimana uang yang 90%-nya tersimpan  ? di bank- kan ? perhatikan fatwa DSN MUI no 1 tahun 2004 tentang bunga simpanan di bank, koperasi, asuransi, dlsb yang konvensional – jatuhnya adalah riba. Dan sekitar 95% dana masayrakat yang tersimpan di institusi-institusi tersebut adanya di institusi keuangan konvensional – yang masuk kategori riba – di fatwa DSN-MUI tersebut.








 Tipical Pengelolaan Asset Masyarakat Modern


Pak Haji tidak menyadari bukan kalau uangnya bermaksiat ‘riba’ ? dan bahkan perlu waktu berpuluh tahun untuk Pak Haji menyadari uang juga menjadi musuh yang mengusirnya dari rumahnya.

Semakin banyak uang, juga meningkatkan kemungkinan kita menggunakannya untuk hal yang sia-sia atau Laghwi. Membeli hal-hal yang tidak berguna, bepergian ketempat-tempat yang tidak dianjurkan dlsb.

Lantas apakah kita tidak boleh memiliki harta yang banyak ? tentu boleh, tetapi digeser ke atas dari dua segitiga dalam ilustrasi tersebut. Agar uang atau harta kita tidak menjadi maksiat yang kita tidak sadari, atau bahkan menjadi musuh yang mengusir kita dari rumah kita – harta kita hendaknya menjadi asset riil yang produktif melayani kebutuhan kita.

Lebih besar kemungkinannya bagi kita untuk bisa mengendalikan asset riil ketimbang asset financial seperti uang di bank, dana pensiun, asuransi dlsb. Kalau toh asset riil diserahkan ke orang lain, rata-rata kita tahu siapa yang menggunakan dan untuk apa. Akses modal terhadap asset riil juga relatif lebih setara – ketimbang asset financial, jadi tidak terjadi asymmetric capital access – pada asset-asset riil.

Daftar asset riil yang abadi ini juga disebutkan di Al-Qur’an dalam ayat berikut : “ Dijadikan terasa indah  dalam pandangan manusia cinta terhadap apa-apa yang diinginkan, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang”. (QS 3: 14)

Emas dan perak memwakili uang yang adil, yang tidak bisa diturunkan nilai daya belinya oleh inflasi dan sejenisnya. Kuda pilihan merepresentasikan transportasi dan harta secara umum – yang dalam hadis sahih bukhari panjang dijelaskan kategorinya menjadi tiga jenis kuda yaitu kuda Allah, kuda setan dan kuda manusia. Ilustrasi grafis di atas diambil dari penjelasan hadis ini.

Kuda Allah adalah kuda atau harta yang digunakan di jalan Allah, manfaatnya tidak terhingga untuk menjaga keimanan, kehormatan manusia selagi di dunia, dan menjadikan balasan terbaik di akhirat nanti.

Kuda setan adalah kuda yang dipakai berbangga-bangga di dunia, berjudi dan bermaksiat lainnya. Sedangkan kuda manusia adalah kuda-kuda yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari, untuk transportasi, mengangkut barang dan kebutuhan lainnya.

Hewan ternak dan sawah ladang mewakili asset vital yang kita perlu kuasai untuk memenuhi kebutuhan utama kita, yaitu terjaminnya kebutuhan dasar akan kebutuhan makanan yang sehat dan cukup bagi kita dan anak cucu kita kelak. Bahasa sekarangnya adalah untuk menjamin food security.

Karena masyarakat modern saat ini amat sangat lemah dalam kepemilikan kategori riil asset berupa ternak dan sawah ladang ini pulalah yang menyebabkan kita lemah dalam hal food security. Lahan-lahan kita dikuasai para pemilik modal yang tidak mengolahnya menjadi tanah pertanian dan peternakan, dan mereka menguasainya dengan uang kita !

Karena pentingnya penguasaan ternak dan lahan ini untuk long term sustainability masyarakat, untuk food security bukan hanya kita yang hidup di jaman ini tetapi juga yang akan hidup di jaman anak cucu kita mendatang.
 
Namun asset riil juga seperti karakter kuda tersebut di atas, kepemilikannya sedapat mungkin menjadi jalan untuk beramal fisabilillah – agar manfaatnya maksimal. Atau setidaknya menjadi ‘kuda manusia’ yang dikelola produktif sehingga bisa memenuhi kebutuhan pemiliknya – untuk ‘food security’ dan sejenisnya. Jangan menjadi ‘kuda setan’ , dibeli kemudian dianggurkan – hanya untuk sekedar memiliki atau menguasai.

Kalau saja pembelanjaan kita tidak seperti dua segitiga di atas, tetapi terbalik – kalau kita banyak harta , porsi terbesarnya untuk fisabilillah, terus untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarga dan sesedikit mungkin – kalau bisa tidak ada – yang untuk laghwi atau maksiat, maka akan betapa indahnya dunia ini.

Tidak ada kaum yang tertindas karena akan selalu ada yang memerdekakannya dengan dana fisabilillah, tidak ada yang sakit kecuali ada yang mengobati, tidak ada pengungsi korban perang kecuali ada yang memberinya tempat tinggal, tidak ada yang lapar kecuali ada yang memberinya makan, tidak ada yang bodoh kecuali ada yang mendidiknya hingga pintar.

Yang perlu kita lakukan untuk ini hanya melangkah – mengangkat kaki yang satu ke depan kaki lainya – setiap saat. Bila harta kita saat ini lebih ke bottom of pyramid tersebut di atas, selangkah demi selangkah kita dorong ke atas, sampai suatu saat menjadi pyramid terbalik. InsyaAllah. (Muhaimin Iqbal).

Lirik Panggilan Jihad-Buya Hamka [HD]

Rabu, 15 Maret 2017

Nah ini dia, deretan selebriti Indonesia pecinta Habib Rizieq

keren lagu aksi bela islam cover rifki music

Yusril: Umat Islam Tidak Cukup Unjuk Kekuatan dengan Aksi Damai saja, Tapi Juga harus dengan Cara ini

Umat Islam Indonesia harus mendukung kekuatan politik Islam. Dengan demikian umat Islam dapat turut menentukan kebijakan-kebijakan politik di Tanah Air.
“Caranya adalah mendukung partai-partai Islam dalam pemilihan legislatif, pilkada dan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden,” kata Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra dalam keteranga tertulisnya, Selasa (14/3) petang.
Dikatakan Yusril, umat Islam tidak cukup hanya unjuk kekuatan dengan aksi damai, zikir dan doa tanpa langkah-langkah nyata untuk membangun kekuatan politik Islam di Indonesia. Aksi damai, shalat jamaah, zikir dan doa memang penting, namun jangan dilupakan adanya usaha-usaha nyata untuk membangun kekuatan politik yang tangguh.
“Adalah kontradiksi, jika umat Islam menjalankan ibadah menurut tuntunan Islam, namun dalam politik mendukung kekuatan politik sekular. Bahkan tidak jarang kekuatan politik sekuler itu bukan hanya tidak simpatik kepada Islam dan umatnya, tetapi juga bersifat anti-Islam,” katanya.
Yusril menyebut, kekuatan politik Islam yang wajib didukung itu adalah kekuatan moderat yang menempatkan Islam dan umatnya berada dalam posisi “ummatan wasatan” (yang berada di tengah). Bukan kekuatan ekstrim, apalagi yang bersifat intoleran terhadap perbedaan.
“Kekuatan Islam moderat ini menjunjung tinggi azas-azas Islam, etika dan moralitas Islam yang bertumpu pada prinsip keadilan bagi semua,” katanya.
 
Dari pengamatannya, pakar hukum tata negara itu mengemukakan, dalam tiga tahun terakhir, umat Islam sama-sama merasakan di era kebebasan yang luar biasa, dimana orang leluasa menista dan merendahkan Islam melalui berbagai media. Sementara, ucapnya, tidak terlihat ada upaya-upaya dari penguasa untuk memberikan edukasi dan menghentikannya.
“Pemerintahan yang tidak simpati kepada Islam, jangan diharapkan akan bersikap adil dan mengayomi Islam dan umatnya,” tegas Yusril.
Karena itu, Yusril mengajak umat Islam untuk membangun kesadaran bersama, agar ummat Islam perlu memiliki kekuatan politik Islam yang signifikan, sehingga arah politik ummat ke depan bersifat lebih Islami. Karena bila kekuatan politik Islam semuanya tenggelam sebut Yusril, benteng untuk nenjaga Islam dan juga menjaga Negara Kesatuan RI akan pupus.
 
 Yusril: Umat Islam Tidak Cukup Unjuk Kekuatan dengan Aksi Damai saja, Tapi Juga harus dengan Cara ini
 

Berselingkuh dengan Komunis

Angin merah dari arah kiri berembus menembus ruang-ruang istana kepresidenan. Sebagai kekuatan politik yang dianggap paling progresif dan revolusioner, Partai Komunis Indonesia (PKI) mendapatkan tempat tersendiri di mata Pemimpin Besar Revolusi, Sukarno.
“Sang presiden pada 1963 hingga 1965 banyak ‘memberi angin’ kepada partai komunis itu dibandingkan kepada partai-partai politik lainnya,” kata Cosmas Batubara dalam biografi politiknya.
PKI memang luar biasa. Partai berlambang palu arit itu merupakan partai komunis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Soviet.
Anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta orang. Ditambah 3 juta orang dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota. Juga pergerakan petani melalui Barisan Tani Indonesia (BTI) yang mempunyai 9 juta anggota.
Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis serta pergerakan sarjananya. Sehingga, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung. Atau seperlima dari jumlah penduduk Indonesia tahun 1965. Jumlah penduduk Indonesia pada 1965 sekitar 100 juta jiwa.
Kebangkitan PKI diawali dalam Pemilu 1955. Hanya tujuh tahun setelah peristiwa pemberontakan Madiun. Partai ‘kiri merah’ itu tampil sebagai kekuatan keempat di bawah partai PNI (22 persen), Masyumi (20 persen), NU (18 persen), dan PKI (16 persen). Kemudian memanfaatkan momentum 5 Juli 1959. Saat itu, presiden Sukarno membubarkan parlemen dan menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden.
PKI merupakan kekuatan paling antusias menyambut Demokrasi Terpimpin. Apalagi setelah Bung Karno membuat persekutuan konsepsi, antara nasionalis, agamis, dan komunis yang dinamakan Nasakom. Nasionalis (PNI), agama Islam tradisional (NU), dan komunis (PKI). Masyumi menolak masuk dalam konsepsi tersebut. Partai Islam modernis itu kemudian dibubarkan Sukarno.
Maka, PKI merasa memiliki mandat untuk masuk dalam konsepsi tersebut. PKI menilai, pihak-pihak yang tidak bisa menyetujui gagasan Nasakom sebagai kontrarevolusi dan harus ditekan. Di situ Sukarno ‘berselingkuh’ dengan komunis untuk memperkuat kedudukannya sebagai orang nomor satu di Republik Indonesia.

Dialektika Materialisme

Sukarno lupa bahwa ia pernah mengutuk PKI dalam peristiwa pemberontakan Madiun 1948. Lupa bahwa DN Aidit dan kawan-kawan adalah penerus Muso yang ingin merebut kekuasaan dan mendirikan Negara Soviet Indonesia atau Negara Komunis Indonesia.
Entah mengapa, Sukarno seperti lupa tentang ‘Historis Materialisme’. Kalimat itu merupakan satu kesatuan dengan dialektika materialisme dalam Filsafat Ilmu Karl Marx. Kemudian dikonkretkan pelaksanaannya oleh Lenin.
Dari sumber ideologi itulah partai komunis menggariskan tujuan dan cita-cita politiknya. Dalam dialektika materialisme diajarkan bahwa segala sesuatu yang ada, tidak bersumber dari sumber segala ada, yakni Tuhan. Melainkan hasil perkembangan dialektis dari sesuatu yang materiil atau jasmaniah sifatnya.
Dialektis maksudnya perkembangan menuju ke taraf yang lebih tinggi dengan melalui pertentangan. Dalam rangka perkembangan dialektis materialisme ini akhirnya terwujudlah manusia.
Menurut istilah orang komunis: kerja dan kerja yang menciptakan manusia (labours created man), dan bukan karena Tuhan. Karena dalam perkembangan materi itu, akhirnya terwujudlah makhluk yang sedikit demi sedikit dapat melepasakan tangannya dari keharusan menjaga badannya. Dialektika materialisme tidak mengenal adanya Tuhan.
Jadi jelas bahwa konsep serta ideologi partai komunis bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia, yang mengakui adanya kekuasaan Tuhan. Apalagi poin pertama ideologi bangsa Indonesia, Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.
Mohamad Hatta sebagai teman seperjuangan Sukarno, terang-terangan mengutuk ide Nasakom tersebut. Ia bahkan memprediksi Sukarno bisa terpeleset gara-gara Nasakom. Suatu kemustahilan menyatukan komunis dengan Islam yang menganut Ke-Esa-an Tuhan.
Tetapi, Sukarno tetap keras kepala dengan pendiriannya tentang Nasakom. Merasa mendapatkan angin politik, PKI mulai berani menuduh lawan-lawannya dengan berbagai sebutan seperti kontrarevolusi (kontrev), kapitalis birokrat (kabir ), antek-antek nekolim (antek-antek neokolonialisme), komprador, setan desa, setan kota, kaum sarungan, dan lain-lain.
 
 
Partai kiri merah ini semakin agresif dan menawarkan kepada presiden Sukarno agar menyetujui pembentukan tentara ke-V atau angkatan kelima, selain Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Angkatan Kepolisian.
Tidak peduli belum mendapatkan persetujuan Sukarno, mereka melatih para sukarelawan di Lubang Buaya, ujung timur Jakarta yang berbatasan dengan Pondok Gede, Kota Bekasi. PKI berdalih latihan tersebut dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia.
Arah politik luar negeri Indonesia juga sangat menguntungkan PKI. Terbentuk poros Jakarta-Hanoi (Vietnam)-Peking (kini Beijing, Cina) dan Pyongyang (Korea Utara). Berporos dengan tiga negara komunis. PKI pun merasa bahwa Bung Karno sejalan dengan garis perjuangannya.
PKI Lawan Angkatan Darat

Di sisi lain, Angkatan Darat merupakan organisasi militer yang sangat anti terhadap komunis. Mereka (Divisi Siliwangi) menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Juga menumpas sejumlah pemberontakan dan pergolakan. TNI AD pun dan menentang keras Sukarno yang memasukkan orang-orang komunis dalam kabinet.
Termasuk menentang keras usulan Angkatan Kelima serta Nasakom. Sikap keras Angkatan Darat berbeda dengan angkatan lain yang cenderung patuh kepada Presiden Sukarno. Kedekatan Bung Karno dengan PKI membuat hubungan Sukarno dengan Angkatan Darat tidak harmonis.
Bagi PKI buruknya kondisi kesehatan Bung Karno menjadi alasan mengambilalih kepemimpinan nasional. Menjelang akhir September 1965 dijadikan momentum untuk mengambilalih kekuasaan dengan jalan kekerasan.
PKI menyebar isu Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta terhadap presiden Sukarno. Panglima Angkatan Darat, Letnan Jenderal Ahmad Yani dan lima jenderal Angkatan Darat lainnya dibunuh. Termasuk Letnan Satu (Zeni) Piere Tendean, ajudan Jenderal AH Nasution, dibunuh dan dimasukkan ke dalam sumur di kawasan Lubang Buaya, tempat latihan Angkatan Kelima PKI.
PKI pun melancarkan gerakan pada 30 September 1965. Belakangan dalam beberapa pidato 1966, presiden Sukarno mengakui ada PKI di belakang peristiwa itu. Dia mengutuknya sebagai tindakan keblinger pimpinan PKI, seperti dalam laporan pertanggungjawaban Nawaksara. Sesuatu yang janggal, sebab Sukarno berani membubarkan Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia, tetapi menolak membubarkan PKI.
Penolakan tersebut menjadi salah satu penutup kiprah politik Bung Karno. Padahal, demonstrasi menuntut pembubaran PKI terus menggelinding sejak akhir 1965 hingga Februari 1967. MPRS pun mencabut mandat dari Sukarno setelah ia menyerahkan kekuasaan kepada Letjen Soeharto sebagai Pengemban Ketetapan MPRS No.IX/MPRS/1966. (Selamat Ginting)
 
 Sukarno dan DN Aidit di acara peringatan ulang tahun PKI ke-45 di Istora Senayan tahun 1964.
 

Senin, 13 Maret 2017

PERNYATAAN (mantan preman ) SANG MUALAF




* JADI TERHARU DENGERNYA *
PERNYATAAN (mantan preman ) SANG MUALAF
( Hercules Romario Marshal )

" Ini pakaian saya yang sekarang ( sambil menunjukan pakaian yg dikenakan dan peci di kepalanya ), Dulu saya keluar masuk penjara karena kebodohan saya membela kemaksiatan, sekarang saya lebih siap keluar masuk penjara membela agama saya ( Islam ) bahkan mati sekalipun saya siap,itu lebih baik di mata Tuhan...Allah SWT "
Masya Allah
Semoga sehat panjang umur Bang tambah ilmu agamanya .
Aamiin.