Jumat, 10 Maret 2017

MASJID DAN PERJUANGAN UMAT



إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. At Taubah: 18).


Berdirinya masjid tidak terlepas dari perjuangan yang dilakukan oleh para nabi Allah sesuai zamannya dan hingga kini masjid tetap berfungsi menjadi pusat perjuangan umat Islam didunia, termasuk di Indonesia. Masjidil Haram menjadi bukti perjuangan yang dilakukan nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail, kemudian diteruskan oleh anak-anak keturunannya hingga zaman nabiMuhammad SAW. Masjid Al Aqsha di Jerusalem juga sama keadaannya, bahkan hingga kini keberadaannya telah memberikan pengaruh dalam menggerakan perjuangan umat Islam diseluruh dunia.
Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah, saat berada di Quba, mendiikan masjid yang tiada lain sebagai tempat beribadah, juga menjadi symbol sejarah perjuangan umat Islam dalam menghadapi kaum kafir Quraisy. Kemudian saat berada di Madinah beliau membangun masjid Nabawi yang kemudian dijadikan sebagai pusat perjuangan umat Islam, dalam menghadapi musuh-musuh Islam.
Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa fungsi masjid sebagaimana disebutkan dalam  Q.S. At Taubah: 18 tersebut diatas adalah:
Pertama, masjid sebagai tempat pembinaan keimanan kepada Allah dan hari akhirat, sehingga melalui tempat ibadah ini umat Islam dibersihkan dengan segala perbuatan syirik dan hal-hal yang akan merusak aqidah dan tauhidnya. Pembinaan keimanan, aqidah dan tauhid inilah yang dilakukan oleh nabi Muhammad SAW selama menjalankan tugas kerasulannya, dan diantaranya dilakukan didalam masjid melalui dakwah antara lain; khutbah, tabligh dan taklim yang langsung dipimpinnya.
Dalam mengawali dakwah, khutbah, tabligh dan taklim Rasulullah senantiasa membaca hal-hal  yang berkaitan dengan aqidah, tauhid dan keimanan kepada Allah Ta’alaa, sehingga menjauhkan umat Islam dari kemusyrikan, sebagaimana disebutkan dalam sabdanya: “Segala puji bagi Allah, kita memuji Nya, mohon pertolongan dan ampunan kepada Nya, kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan kita, barangsiapa yang Allah beri petunjuk,  maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi Nya, dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad SAW adalah hamba dan rasul Nya”. (HR. Abu Dawud, ad Darimi, dan Ahmad).
Kedua, masjid sebagai pusat ibadah mahdhoh (khusus) dan ghaira mahdhoh (umum) umat Islam, antara lain: menegakan Sholat, khutbah Jum’at, dan menunaikan zakat, serta aktifitas dzikir, doa, dakwah, tabligh, taklim, pengajian, menerima tamu, pelayanan kesehatan, dan membantu anak yatim serta pelayanan social bahkan sebagai tempat strategi perang dan pusat pemerintahan.
Semua aktifitas ibadah itu merupakan bagian dari perjuangan umat Islam didunia dalam rangka menjadikan masjid sebagai bangunan yang didirikan atas dasar taqwa, sesuai frman Allah, “……sungguh, masjid yang didirikan atas dasar taqwa sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan shalat didalamnya. Didalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri, Allah menyukai orang-orang yang bersih”. (Q.S. At Taubah: 108).
Ketiga, masjid sebagai benteng perjuangan umat Isalm dalam menghadapi musuh-musuh nya sesuai firman Allahyang menyatakan, “Dan tidak takut kepada siapapun kecuali hanya kepada Allah”. (Q.S. At Taubah: 18). Dalam sejarah telah dibuktikan sejak zaman Rasulullah hingga zaman perjuangan umat Islam dewasa ini telah menjadikan masjid sebagai benteng perjuangan menghadapi musuh-musuh Isalam, sehingga mereka tidak mampu menghancurkan kaum muslimin, bahkan hingga saat ini masjid benar-benar menjadi tempat yang paling kokoh dalam perjuangan dan gerakan Islam.
Hanya saja kemampuan masjid menjadi benteng umat Islam bergantung pada sejauh mana mereka memakmurkannya dengan berbagai kegiatan ibadah kepada Allah SWT, sebagaimana nabi Muhammad SAW menjadikan masjid Nabawi di Madinah sebagai benteng pertahanan yang kokoh karena umat Islam benar-benar memakmurkannya, sebagaimana terbukti bahwa setiap waktu-waktu shalat selalu dipenuhi dengan jama’ah yang berlimpah memenuhi masjid. Masjid Nabawi dan kota Madinah tidak pernah berhasil diduduki dan dihancurkan, baik oleh kaum musyrikin, ahlul kitab dan golongan munafiqin dibawah kepemimpinan Abdulah bin Ubay yang menjadi musuh dalam selimut, malah umat Islam yang ditempa dan dibina Rasulullah menjadi semakin kuat dan kokoh persatuan dan perjuangannya.
Dalam sejarah perjuangan umat Islam di Indonesia juga telah dibuktikan bagaimana masjid telah menjadi benteng yang kokoh dalam menghadapi penjajahan orang- orang kafir, sebagaimana yang dilakukan pejuang Aceh yang melakukan jihad dengan bertahan dalam masjid pada saat mendapat serbuan dari Belanda yang tidak dapat menghancurkannya. Itulah sebabnya pada zaman penjajahan Belanda telah membuat peraturan agar setiap desa dilarang membangun masjid lebih dari satu, karena mereka khawatir masjid menjadi benteng perlawanan rakyat dan perjuangan umat Islam.
Bahkan sejak zaman penjajahan hingga zamankemerdekaan masjid masih dikhawatirkan sebagai benteng perjuangan dan gerakan Islam, dengan dianggap tabu dan larangan pemerintah agar tidak dijadikan sebagai tempat aktifitas politik.
Pada zaman setelah kemerdekaan masjid tumbuh dan berkembang diseluruh tanah air, namun hingga kini masih saja ada yang membatasi fungsinya seperti, tidak dibenarkan membicarakan masalah politik, pemerintahan dan negara, apalagi disaat tengah berlangsungnya pemilihan pejabat negara. Bahkan dalam khutbah masih ada yang melarang membahas masalah politik dan perjuangan umat Islam dalam menentang ke dzoliman, apalagi memberikan kritik kepada pemerintah yang berdampak pada proses hokum oleh aparat penegak hokum.
Namun demikian kesadaran umat Islam dinegeri ini bahwa masjid tidak hanya sebatas tempat ibadah, melainkan juga pusat pemersatu dan perjuangan umat Islam mulai bangkit kembali, sebagaimana hadirnya gerakan subuh berjamaah sesudah Aksi Bela Islam 212 beberapa waktu yang lalu. Setelah berlangsungnya Aksi Bela Islam 212 yang dihadirilebih dari tujuh juta umat Islam dari seluruh penjuru tanah air ini setidaknya telah membangkitkan kesadaran umat Islam untuk senantiasa berjamaah  dalam beribadah dan berjuang menghadapi berbagai fitnah dan tantangan yang akan dihadapi di negeri ini.
Insya Allah kelak masjid akan menjadi tempat ibadah yang paling berpengaruh dalam masyarakat diseluruh dunia. Wallahu A’lam. (Dr. Muhsin MK).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar