إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang
beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat,
menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka
merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang
mendapat petunjuk”. (Q.S. At Taubah: 18).
Berdirinya masjid tidak terlepas
dari perjuangan yang dilakukan oleh para nabi Allah sesuai zamannya dan hingga
kini masjid tetap berfungsi menjadi pusat perjuangan umat Islam didunia,
termasuk di Indonesia. Masjidil Haram menjadi bukti perjuangan yang dilakukan
nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail, kemudian diteruskan oleh anak-anak
keturunannya hingga zaman nabiMuhammad SAW. Masjid Al Aqsha di Jerusalem juga
sama keadaannya, bahkan hingga kini keberadaannya telah memberikan pengaruh
dalam menggerakan perjuangan umat Islam diseluruh dunia.
Rasulullah SAW ketika hijrah ke
Madinah, saat berada di Quba, mendiikan masjid yang tiada lain sebagai tempat
beribadah, juga menjadi symbol sejarah perjuangan umat Islam dalam menghadapi kaum
kafir Quraisy. Kemudian saat berada di Madinah beliau membangun masjid Nabawi
yang kemudian dijadikan sebagai pusat perjuangan umat Islam, dalam menghadapi
musuh-musuh Islam.
Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa
fungsi masjid sebagaimana disebutkan dalam
Q.S. At Taubah: 18 tersebut diatas adalah:
Pertama, masjid sebagai tempat pembinaan keimanan kepada Allah dan
hari akhirat, sehingga melalui tempat ibadah ini umat Islam dibersihkan dengan
segala perbuatan syirik dan hal-hal yang akan merusak aqidah dan tauhidnya.
Pembinaan keimanan, aqidah dan tauhid inilah yang dilakukan oleh nabi Muhammad
SAW selama menjalankan tugas kerasulannya, dan diantaranya dilakukan didalam
masjid melalui dakwah antara lain; khutbah, tabligh dan taklim yang langsung
dipimpinnya.
Dalam mengawali dakwah, khutbah,
tabligh dan taklim Rasulullah senantiasa membaca hal-hal yang berkaitan dengan aqidah, tauhid dan
keimanan kepada Allah Ta’alaa, sehingga menjauhkan umat Islam dari kemusyrikan,
sebagaimana disebutkan dalam sabdanya: “Segala
puji bagi Allah, kita memuji Nya, mohon pertolongan dan ampunan kepada Nya,
kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan
kita, barangsiapa yang Allah beri petunjuk,
maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah
sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa
tidak ada Tuhan yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali hanya Allah semata,
tidak ada sekutu bagi Nya, dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad SAW adalah
hamba dan rasul Nya”. (HR. Abu Dawud, ad Darimi, dan Ahmad).
Kedua, masjid sebagai pusat ibadah mahdhoh (khusus) dan ghaira
mahdhoh (umum) umat Islam, antara lain: menegakan Sholat, khutbah Jum’at, dan
menunaikan zakat, serta aktifitas dzikir, doa, dakwah, tabligh, taklim,
pengajian, menerima tamu, pelayanan kesehatan, dan membantu anak yatim serta
pelayanan social bahkan sebagai tempat strategi perang dan pusat pemerintahan.
Semua aktifitas ibadah itu
merupakan bagian dari perjuangan umat Islam didunia dalam rangka menjadikan
masjid sebagai bangunan yang didirikan atas dasar taqwa, sesuai frman Allah, “……sungguh, masjid yang didirikan atas dasar
taqwa sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan shalat
didalamnya. Didalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri, Allah
menyukai orang-orang yang bersih”. (Q.S. At Taubah: 108).
Ketiga, masjid sebagai benteng perjuangan umat Isalm dalam
menghadapi musuh-musuh nya sesuai firman Allahyang menyatakan, “Dan tidak takut
kepada siapapun kecuali hanya kepada Allah”. (Q.S. At Taubah: 18). Dalam
sejarah telah dibuktikan sejak zaman Rasulullah hingga zaman perjuangan umat
Islam dewasa ini telah menjadikan masjid sebagai benteng perjuangan menghadapi
musuh-musuh Isalam, sehingga mereka tidak mampu menghancurkan kaum muslimin,
bahkan hingga saat ini masjid benar-benar menjadi tempat yang paling kokoh dalam
perjuangan dan gerakan Islam.
Hanya saja kemampuan masjid
menjadi benteng umat Islam bergantung pada sejauh mana mereka memakmurkannya
dengan berbagai kegiatan ibadah kepada Allah SWT, sebagaimana nabi Muhammad SAW
menjadikan masjid Nabawi di Madinah sebagai benteng pertahanan yang kokoh
karena umat Islam benar-benar memakmurkannya, sebagaimana terbukti bahwa setiap
waktu-waktu shalat selalu dipenuhi dengan jama’ah yang berlimpah memenuhi
masjid. Masjid Nabawi dan kota Madinah tidak pernah berhasil diduduki dan
dihancurkan, baik oleh kaum musyrikin, ahlul kitab dan golongan munafiqin
dibawah kepemimpinan Abdulah bin Ubay yang menjadi musuh dalam selimut, malah
umat Islam yang ditempa dan dibina Rasulullah menjadi semakin kuat dan kokoh
persatuan dan perjuangannya.
Dalam sejarah perjuangan umat
Islam di Indonesia juga telah dibuktikan bagaimana masjid telah menjadi benteng
yang kokoh dalam menghadapi penjajahan orang- orang kafir, sebagaimana yang
dilakukan pejuang Aceh yang melakukan jihad dengan bertahan dalam masjid pada
saat mendapat serbuan dari Belanda yang tidak dapat menghancurkannya. Itulah
sebabnya pada zaman penjajahan Belanda telah membuat peraturan agar setiap desa
dilarang membangun masjid lebih dari satu, karena mereka khawatir masjid
menjadi benteng perlawanan rakyat dan perjuangan umat Islam.
Bahkan sejak zaman penjajahan
hingga zamankemerdekaan masjid masih dikhawatirkan sebagai benteng perjuangan
dan gerakan Islam, dengan dianggap tabu dan larangan pemerintah agar tidak
dijadikan sebagai tempat aktifitas politik.
Pada zaman setelah kemerdekaan
masjid tumbuh dan berkembang diseluruh tanah air, namun hingga kini masih saja
ada yang membatasi fungsinya seperti, tidak dibenarkan membicarakan masalah
politik, pemerintahan dan negara, apalagi disaat tengah berlangsungnya
pemilihan pejabat negara. Bahkan dalam khutbah masih ada yang melarang membahas
masalah politik dan perjuangan umat Islam dalam menentang ke dzoliman, apalagi
memberikan kritik kepada pemerintah yang berdampak pada proses hokum oleh
aparat penegak hokum.
Namun demikian kesadaran umat
Islam dinegeri ini bahwa masjid tidak hanya sebatas tempat ibadah, melainkan
juga pusat pemersatu dan perjuangan umat Islam mulai bangkit kembali, sebagaimana
hadirnya gerakan subuh berjamaah sesudah Aksi Bela Islam 212 beberapa waktu
yang lalu. Setelah berlangsungnya Aksi Bela Islam 212 yang dihadirilebih dari
tujuh juta umat Islam dari seluruh penjuru tanah air ini setidaknya telah membangkitkan
kesadaran umat Islam untuk senantiasa berjamaah
dalam beribadah dan berjuang menghadapi berbagai fitnah dan tantangan
yang akan dihadapi di negeri ini.
Insya Allah kelak masjid akan
menjadi tempat ibadah yang paling berpengaruh dalam masyarakat diseluruh dunia.
Wallahu A’lam. (Dr. Muhsin MK).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar