Angin merah dari arah kiri berembus menembus ruang-ruang istana
kepresidenan. Sebagai kekuatan politik yang dianggap paling progresif
dan revolusioner, Partai Komunis Indonesia (PKI) mendapatkan tempat
tersendiri di mata Pemimpin Besar Revolusi, Sukarno.
“Sang presiden pada 1963 hingga 1965 banyak ‘memberi angin’ kepada
partai komunis itu dibandingkan kepada partai-partai politik lainnya,”
kata Cosmas Batubara dalam biografi politiknya.
PKI memang luar biasa. Partai berlambang palu arit itu merupakan partai
komunis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Soviet.
Anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta orang. Ditambah 3 juta orang dari
pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang
mempunyai 3,5 juta anggota. Juga pergerakan petani melalui Barisan Tani
Indonesia (BTI) yang mempunyai 9 juta anggota.
Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis serta
pergerakan sarjananya. Sehingga, PKI mempunyai lebih dari 20 juta
anggota dan pendukung. Atau seperlima dari jumlah penduduk Indonesia
tahun 1965. Jumlah penduduk Indonesia pada 1965 sekitar 100 juta jiwa.
Kebangkitan PKI diawali dalam Pemilu 1955. Hanya tujuh tahun setelah
peristiwa pemberontakan Madiun. Partai ‘kiri merah’ itu tampil sebagai
kekuatan keempat di bawah partai PNI (22 persen), Masyumi (20 persen),
NU (18 persen), dan PKI (16 persen). Kemudian memanfaatkan momentum 5
Juli 1959. Saat itu, presiden Sukarno membubarkan parlemen dan
menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden.
PKI merupakan kekuatan paling antusias menyambut Demokrasi Terpimpin.
Apalagi setelah Bung Karno membuat persekutuan konsepsi, antara
nasionalis, agamis, dan komunis yang dinamakan Nasakom. Nasionalis
(PNI), agama Islam tradisional (NU), dan komunis (PKI). Masyumi menolak
masuk dalam konsepsi tersebut. Partai Islam modernis itu kemudian
dibubarkan Sukarno.
Maka, PKI merasa memiliki mandat untuk masuk dalam konsepsi tersebut.
PKI menilai, pihak-pihak yang tidak bisa menyetujui gagasan Nasakom
sebagai kontrarevolusi dan harus ditekan. Di situ Sukarno ‘berselingkuh’
dengan komunis untuk memperkuat kedudukannya sebagai orang nomor satu
di Republik Indonesia.
Dialektika Materialisme
Sukarno lupa bahwa ia pernah mengutuk PKI dalam peristiwa pemberontakan
Madiun 1948. Lupa bahwa DN Aidit dan kawan-kawan adalah penerus Muso
yang ingin merebut kekuasaan dan mendirikan Negara Soviet Indonesia atau
Negara Komunis Indonesia.
Entah mengapa, Sukarno seperti lupa tentang ‘Historis Materialisme’.
Kalimat itu merupakan satu kesatuan dengan dialektika materialisme dalam
Filsafat Ilmu Karl Marx. Kemudian dikonkretkan pelaksanaannya oleh
Lenin.
Dari sumber ideologi itulah partai komunis menggariskan tujuan dan
cita-cita politiknya. Dalam dialektika materialisme diajarkan bahwa
segala sesuatu yang ada, tidak bersumber dari sumber segala ada, yakni
Tuhan. Melainkan hasil perkembangan dialektis dari sesuatu yang materiil
atau jasmaniah sifatnya.
Dialektis maksudnya perkembangan menuju ke taraf yang lebih tinggi
dengan melalui pertentangan. Dalam rangka perkembangan dialektis
materialisme ini akhirnya terwujudlah manusia.
Menurut istilah orang komunis: kerja dan kerja yang menciptakan manusia
(labours created man), dan bukan karena Tuhan. Karena dalam perkembangan
materi itu, akhirnya terwujudlah makhluk yang sedikit demi sedikit
dapat melepasakan tangannya dari keharusan menjaga badannya. Dialektika
materialisme tidak mengenal adanya Tuhan.
Jadi jelas bahwa konsep serta ideologi partai komunis bertentangan
dengan ideologi bangsa Indonesia, yang mengakui adanya kekuasaan Tuhan.
Apalagi poin pertama ideologi bangsa Indonesia, Pancasila adalah
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Mohamad Hatta sebagai teman seperjuangan Sukarno, terang-terangan
mengutuk ide Nasakom tersebut. Ia bahkan memprediksi Sukarno bisa
terpeleset gara-gara Nasakom. Suatu kemustahilan menyatukan komunis
dengan Islam yang menganut Ke-Esa-an Tuhan.
Tetapi, Sukarno tetap keras kepala dengan pendiriannya tentang Nasakom.
Merasa mendapatkan angin politik, PKI mulai berani menuduh
lawan-lawannya dengan berbagai sebutan seperti kontrarevolusi (kontrev),
kapitalis birokrat (kabir ), antek-antek nekolim (antek-antek
neokolonialisme), komprador, setan desa, setan kota, kaum sarungan, dan
lain-lain.
Partai kiri merah ini semakin agresif dan menawarkan kepada presiden
Sukarno agar menyetujui pembentukan tentara ke-V atau angkatan kelima,
selain Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Angkatan Kepolisian.
Tidak peduli belum mendapatkan persetujuan Sukarno, mereka melatih para
sukarelawan di Lubang Buaya, ujung timur Jakarta yang berbatasan dengan
Pondok Gede, Kota Bekasi. PKI berdalih latihan tersebut dalam rangka
konfrontasi dengan Malaysia.
Arah politik luar negeri Indonesia juga sangat menguntungkan PKI.
Terbentuk poros Jakarta-Hanoi (Vietnam)-Peking (kini Beijing, Cina) dan
Pyongyang (Korea Utara). Berporos dengan tiga negara komunis. PKI pun
merasa bahwa Bung Karno sejalan dengan garis perjuangannya.
PKI Lawan Angkatan Darat
Di sisi lain, Angkatan Darat merupakan organisasi militer yang sangat
anti terhadap komunis. Mereka (Divisi Siliwangi) menumpas pemberontakan
PKI di Madiun. Juga menumpas sejumlah pemberontakan dan pergolakan. TNI
AD pun dan menentang keras Sukarno yang memasukkan orang-orang komunis
dalam kabinet.
Termasuk menentang keras usulan Angkatan Kelima serta Nasakom. Sikap
keras Angkatan Darat berbeda dengan angkatan lain yang cenderung patuh
kepada Presiden Sukarno. Kedekatan Bung Karno dengan PKI membuat
hubungan Sukarno dengan Angkatan Darat tidak harmonis.
Bagi PKI buruknya kondisi kesehatan Bung Karno menjadi alasan
mengambilalih kepemimpinan nasional. Menjelang akhir September 1965
dijadikan momentum untuk mengambilalih kekuasaan dengan jalan kekerasan.
PKI menyebar isu Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta terhadap
presiden Sukarno. Panglima Angkatan Darat, Letnan Jenderal Ahmad Yani
dan lima jenderal Angkatan Darat lainnya dibunuh. Termasuk Letnan Satu
(Zeni) Piere Tendean, ajudan Jenderal AH Nasution, dibunuh dan
dimasukkan ke dalam sumur di kawasan Lubang Buaya, tempat latihan
Angkatan Kelima PKI.
PKI pun melancarkan gerakan pada 30 September 1965. Belakangan dalam
beberapa pidato 1966, presiden Sukarno mengakui ada PKI di belakang
peristiwa itu. Dia mengutuknya sebagai tindakan keblinger pimpinan PKI,
seperti dalam laporan pertanggungjawaban Nawaksara. Sesuatu yang
janggal, sebab Sukarno berani membubarkan Partai Masyumi dan Partai
Sosialis Indonesia, tetapi menolak membubarkan PKI.
Penolakan tersebut menjadi salah satu penutup kiprah politik Bung Karno.
Padahal, demonstrasi menuntut pembubaran PKI terus menggelinding sejak
akhir 1965 hingga Februari 1967. MPRS pun mencabut mandat dari Sukarno
setelah ia menyerahkan kekuasaan kepada Letjen Soeharto sebagai
Pengemban Ketetapan MPRS No.IX/MPRS/1966. (Selamat Ginting)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar