Senin, 13 Maret 2017

YA ALLAH APA SALAH DAN DOSAKU?




 قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (Q.S. Al A’raf: 23)
Walaupun tidak banyak, tetapi masih saja bisa ditemukan orang Islam yang merasa tidak berdosa, sehingga ia merasa aman dari cobaan, ujian maupun sikas dari Allah SWT. Ada orang yang merasa bahwa ia telah banyak melakukan kebaikan, telah mengikuti semua perintah Nya, dan telah meninggalkan segala larangan Nya. Sehingga dengan semua itu ia merasa aman dari segala bentuk ujian dan cobaan.
Qadarullah, suatu saat ia tertimpa musibah penyakit, sehingga terlontarlah ucapan dari mulutnya  “Ya Allah apa salah dan dosaku?”. Dengan amalan-amalannya yang begitu banyak dan dengan usahanya yang kuat untuk meninggalkan maksiat,  ia tidak percaya masih bisa tertimpa musibah (penyakit). Orang ini lupa dengan hadist nabi yang bersabada “setiap anak Adam pasti (sering ) melakukan dosa dan kesalahan, dan sebaik-baik yang berdosa adalah yang (rajin) bertaubat” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Jadi hadist tersebut diatas mengatakan bahwa semua anak Adam (manusia) tidak terlepas dari kesalahan dan dosa, bahkan para nabi sekalipun tidak terlepas dari kesalahan dan dosa. Hanya nabi Muhammad SAW saja yang dikecualikan oleh Allah SWT dari kesalahan dan dosa, ia Ma’shum. Jadi jika para nabi saja yang imannya begitu tinggi bisa berdosa, maka apalagi manusia biasa.
Tentulah manusia lebih berpotensi untuk bersalah dan melakukan dosa, karena manusia pada dasarnya mudah terperdaya. Sifat mudah terperdaya manusialah yang membuat ia tergelincir melakukan kesalahan dan dosa-dosa. Sifat manusia  yang seperti itu, diutarakan oleh Allah SWT dalam firman Nya, “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang maha pengasih” (Q.S. Al Infithar: 6).
Biasanya yang kerap membuat seseorang itu terperdaya adalah kenikmatan dunia seperti anak, harta, wanita dan jabatan. Keempat kenikmatan tersebut yang membuat manusia lalai dan kelalaian itulah yang menjerumuskan mereka untuk melakukan kesalahan dan dosa.
Karena terbuai dengan kenikmatan dunia, membuat kebanyakan orang tidak sadar bahwa ia telah dekat kepada hari pembalasan. Allah SWT berfirman “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari pada Nya)” (Q.S. Al Anbiya: 1).

Kemudian manusia secara tidak sadar dan tidak sengaja telah melakukan satu dosa, dan dosa dilakukannya terus secara berulang-ulang tanpa sadar. Di dalam Islam seseorang itu bisa saja dianggap telah berdusta, walaupun dia secara langsung tidak melakukan dusta. Nabi bersabda “Cukuplah seseorang (dianggap) berdusta, jika dia memberitahukan segala sesuatu yang ia dengar” (HR. Muslim).
Seseorang banyak sekali mendengar dan melihat segala sesuatu dari berbagai sumber seperti TV, radio, medsos media cetak dll., apabila ia memberitahukan semua yang ia dengar tanpa menyaringnya, maka ia sudah dianggap sebagai  seorang pendusta. Padahal ia tidak langsung berdusta, dosa seperti inilah yang terkadang orang lupa mengontrolnya, sehingga terjadi berulang-ulang, akibatnya berulang pula dosa yang dibuatnya. 
Kemudian Allah SWT juga mengingatkan kita dalam firman Nya “ Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (Q.S. Asy Syuraa: 30).  Jadi kalu kita mendapat musibah maka sebaiknya kita tidak usah mencari penyebab dari musibah itu, karena pasti disebabkan dari perbuatan kita sendiri pada masa lalu.
Kemudia Allah memberi tahu pula bahwa sebagian besar dari dosa itu telah diberi ampun oleh Allah. Dia mempunyai sifat maha pengampun dan pemaaf, karena sifat Nya itulah Dia telah memberi ampun kepadamu. Jika bukan karena ampunan Allah yang besar itu bisa saja seseorang akan musibah lebih sering dari pada musibah yang dideritanya sekarang.
Seseorang yang telah mendapatkan ampunan dari Allah, berarti dia telah mendapat karunia Allah. Allah SWT berfirman “Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat Nya kepada kamu semua didunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa adzab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu” (Q.S. An Nur: 14).
Segera Bertaubat
Jika  seseorang melakukan suatu kesalahan baik sengaja  maupun tidak, besar maupun kecil, maka bersegeralah bertaubat kepada Allah SWT, jangan ditunda. Karena nabi Muhammad SAW sendiri  sedikitnya beristighfar dan bertaubat kepada Allah sedikitnya 100 kali dalam sehari. Ingatlah bahwa Allah itu maha pemaaf dan maha pengampun.
Oleh sebab itu hendaklah setiap seseorang setelah berbuat fasik  dan mendzolimi diri sendiri segra bertaubat kepada Allah, karena bertaubat kepada Allah adalah salah satu ciri-ciri orang yang bertaqwa. Kemudian jangan merasa aman dengan yang telah dilakukan, hendaknya dalam diri seseorang itu terkumpul rasa berharap dan rasa cemas, berharap bahwa ibadahnya bisa diterima disisi Allah, tetapi juga jangan merasa terlampau yakin bahwa ibadahnya akan diterima oleh Allah, sehingga lalai untuk intropeksi diri (muhasabah). Wallahu A’lam  (Sofyan Helmi Tanjung).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar